Lampung Timur — Memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar tentang mengejar nilai akademik dan mendapatkan gelar. Lebih dari itu, mahasiswa dituntut mampu membentuk karakter, menjaga etika, serta bertanggung jawab atas setiap sikap dan jejak yang ditinggalkan, termasuk di ruang digital.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok penting yang disampaikan Dr. Bayu Prafitri, M.Pd.I dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIS Darul Ulum Lampung Timur.
Mengangkat materi “Membangun Etika Mahasiswa dalam Lingkungan Akademik & Digital”, Dr. Bayu mengajak mahasiswa baru untuk menjadikan masa perkuliahan sebagai momentum melakukan perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik, berkarakter, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
Bukan Hanya Pintar, tetapi Juga Berkarakter
Dalam pemaparannya, Dr. Bayu menekankan pentingnya mahasiswa memiliki fokus terhadap tujuan dan berani melakukan perubahan terhadap kebiasaan diri.
Mahasiswa, menurutnya, perlu mengenali kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan dan mulai membangun pola hidup yang mendukung keberhasilan. Sikap seperti bersegera, semangat, rajin, bahagia, cerdas, berbagi, peduli, berbakti, taat, dan optimis perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, mahasiswa perlu meninggalkan berbagai kebiasaan negatif seperti malas, suka menunda, pesimis, pemarah, berbohong, pelit, menyendiri, berkata kasar, hingga tidak memiliki minat membaca.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Menghadirkan Nilai Allah SWT dalam Aktivitas Mahasiswa
Tidak hanya berbicara mengenai etika sosial dan akademik, materi yang disampaikan juga mengajak mahasiswa untuk membangun karakter yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Mahasiswa diajak untuk merefleksikan kembali bagaimana hubungan antara aktivitas akademik dengan kehidupan spiritual. Salah satu pertanyaan yang ditekankan adalah sejauh mana mahasiswa menyertakan Allah SWT dalam setiap aktivitasnya.
Bagi mahasiswa STIS Darul Ulum Lampung Timur, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk insan yang memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga pribadi yang religius dan berakhlak.
Karakter mahasiswa beretika yang ditekankan meliputi sikap religius, jujur, toleran, disiplin, berakhlak, peduli terhadap keluarga dan lingkungan sosial, bertanggung jawab, gemar menebarkan kebaikan, serta terus mengembangkan kemampuan diri.
Bijak di Kampus, Dewasa di Dunia Digital
Perkembangan teknologi membuat kehidupan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari ruang digital. Media sosial dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa.
Karena itu, Dr. Bayu mengingatkan bahwa etika tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan ruang kelas. Setiap unggahan, komentar, maupun interaksi di dunia maya dapat menjadi bagian dari jejak digital yang suatu saat akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan profesional.
IPK yang tinggi memang penting, tetapi karakter luhur dan jejak digital yang bersih serta produktif merupakan modal penting yang akan dibawa mahasiswa ke dunia profesional.
Kredibilitas, menurut materi yang disampaikan, tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan sejak mahasiswa, seperti jujur ketika mengikuti ujian, bertutur kata dengan sopan, serta bertanggung jawab dalam setiap lini kehidupan.
Dengan demikian, keberhasilan mahasiswa tidak cukup hanya diukur dari kemampuan akademiknya. Mahasiswa juga harus memiliki kedewasaan dalam menggunakan teknologi dan media digital.
“Pintar Tanpa Etika = Berbahaya”
Menutup pemaparannya, Dr. Bayu menyampaikan sebuah pesan yang menjadi inti dari materi yang diberikan kepada mahasiswa baru.
“Etika = Ilmu + Sikap + Tindakan Baik.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki nilai yang lebih besar ketika disertai sikap dan tindakan yang baik. Sebaliknya, kecerdasan tanpa etika dapat menjadi persoalan.
Materi juga menegaskan bahwa “pintar tanpa etika = berbahaya”, sementara “beretika tanpa ilmu = kurang daya guna.” Karena itu, mahasiswa ideal adalah mereka yang mampu menyelaraskan kecerdasan akademik dengan kemuliaan akhlak.
Membangun Generasi Mahasiswa yang Berintegritas
Melalui kegiatan PKKMB ini, mahasiswa baru STIS Darul Ulum Lampung Timur tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan akademik, tetapi juga diajak memahami tanggung jawab moral sebagai seorang mahasiswa.
Menjadi mahasiswa berarti memasuki fase baru kehidupan yang menuntut kemandirian, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian untuk terus belajar dan berkembang.
Dr. Bayu juga mendorong mahasiswa untuk gemar belajar, gemar beribadah, mencintai orang tua, membangun persahabatan dan komunikasi yang baik, serta terus menebarkan nilai-nilai kebaikan.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan dalam PKKMB tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa baru dalam menjalani perjalanan akademiknya.
Sebab, kampus bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan. Kampus adalah ruang untuk membentuk karakter, membangun integritas, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri menjadi insan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan semangat tersebut, mahasiswa baru STIS Darul Ulum Lampung Timur diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, dewasa secara digital, kuat secara karakter, dan mulia dalam akhlak.
